“kanaya!!!” panggil Rangga,
Gadis yang di panggil “kanaya” menengok dan tersenyum, Rangga berlari mendekati Kanaya, Rangga langsung memegang tangan mungil Kanaya,
“kamu tu ya, kakak cari-cari ternyata disini,” ucap Rangga,
“hehe, habis bosen di kamar terus,” kata Kanaya,
“owh, maafin kakak ya dah ninggalin kamu sendiri,” ujar Rangga merasa bersalah,
“udah, nggak apa kok kak,”
Kanaya dan Rangga ngobrol di taman rumah sakit, hari ini tepat seminggu Kanaya dirawat di rumah sakit, dia mengidap kangker otak, Kanaya adalah adik Rangga satu-satunya,
“naya, ini dah mau jam makan siang lho, bentar lagi kamu juga mau di periksa kan?,”
“iya, ke kamar yuk,” ajak Kanaya,
“ini baru mau kakak ajak,”
Rangga mendorong kursi roda Kanaya menuju kamarnya, saat mereka sampai di depan kamar tepat dengan datanganya dokter Rafael yang mau memeriksa Kanaya,
“gimana kabarnya?,” tanya dokter Rafael,
“baik dok,” jawab Kanaya,
“saya periksa dulu ya?,” kata dokter itu sambil memulai pemeriksaan terhadap Kanaya.
Setelah selesai memeriksa Kanaya dokter itu mengajak Rangga keluar dari kamar Kanaya,
“gimana dok keadaannya?,” tanya Rangga,
“ini terlalu sulit di ungkapkan,” jawab dokter Rafael lesu,
“maksud dokter?,” tanya Rangga,
“semakin memburuk, segera hubungin orang tua anda, mungkin itu bisa jadi spirit buat dia, meski pun hanya sekian persen untuk dia bisa selamat,” jawab dokter Rafael,
“baik dok, terimakasih,” kata Rangga lesu,
Tak lama Rangga langsung menelfon orang tuanya yang ada di Singapore,
“ma, kanaya ma, kata dokter dia makin kritis,” ujar Rangga di telfon,
“oke, mama segera pulang ke Indonesia besok,” jawab sang mama,
“ya udah ma, kalo mama dah sampe Indonesia nelfon ya ma,” kata Rangga sambil menutup telfon,
Rangga masuk ke kamar Kanaya, di lihatnya sang adik yang tertidur pulas dalam buaian mimpi indah, di belainya rambut lurus sang adik,
“dek, kamu jangan tinggalin kakak sendiri ya,” pinta Rangga dalam hati,
Air matanya menitik berlahan, dihapusnya air mata itu, dia takut Kanaya tau dia menangis. Rangga tertidur ketika Kanaya terbangun dari tidurnya.
***
Ke esokkan harinya Rangga menjemput orang tuanya di bandara, mereka langsung menuju rumah sakit, sampai rumah sakit,
“hallo Kanaya,” sapa sang mama,
“mama?kapan mama sama papa dateng?,”
“tadi, gimana kabar kamu sayang?,” tanya sang mama,
“baik ma,”
***
Malam harinya Kanaya hanya ditemani mamanya, papa dan Rangga di rumah, Rangga banyak tugas, karena kuliahnya terbengkalai setelah Kanaya masuk rumash sakit,
“ma..” panggil Kanaya lesu,
“kenapa sayang?,” tanya sang mama,
“ma, kanaya sayang mama,” ujar Kanaya sambil memeluuk sang mama,
“mama juga,”
“ma, kalo kanaya pergi jauh, jauh banget, kak Rangga ikut mama sama papa ke Singapore ya ma?, kasian kak Rangga sendiri,” pesan Kanaya,
“kamu ngomong apa sih Naya?,” tanya sang mama,
“ma, kanaya mau tidur dulu ya ma,” ujar Kanaya tanpa menjawab pertanyaan sang mama,
Sang mama masih bertanya-tanya apa maksud putrinya. Kanaya tertidur pulas di ranjangna, mamanya membelai rambutnya,
“jangan pergi ya sayang,” batin sang mama,
***
Ke esokkan harinya, Rangga, mamanya, dan papanya berkumpul di kamar Kanaya.
“tumben pada kumpul disini?,” tanya Kanaya,
“kamu gimana sih, hari ini kamu ulang tahun lho adekku sayang,” jawab Rangga,
“owh iya iya,” ujar Kanaya tersadar,
“ini kado buat kamu,” ujar mamanya sambil memberikan sebuah kotak warna merah kesukaan Kanaya,
“makasih ya ma, isinya apa ya?,” tanya Kanaya,
“makanya di buka donk,”
Kanaya membuka kotak itu, sebuah kotak musik,
“makasih ya ma, pa,” ujar Kanaya girang,
“Cuma mama papa nih, kakak nggak?,” tanya Rangga,
“eh iya, kakakku yang ganteng,” ujar Kanaya sambil memeluk sang kakak.
***
Seminggu setelah ulang tahunya, Kanaya kritis, dan dia harus dibawa ke ruang ICU, dokter berusaha sekuat tenaga mempertahankan nyawa Kanaya, namun Tuhan berkehendak lain, Kanaya meniggal.
Dua bulan setelah kematian Kanaya,
“rangga, kamu ikut mama papa ke Singapore ya?,” tanya sang Mama,
“maksud mama, Rangga harus ninggalin kenangan tetang Kanaya?,” jawab Rangga dengan nada negatif,
“ini bukan kemauan mama sayang, ini pesan adek kamu, dia nggak mau kamu sendiri di sini, dia mau kamu ikut mama sama papa,” ujar sang mama,
“jadi?,”
“iya, kamu ikut mama sama papa,”
“oke, aku ikut kalo itu memang pesan Kanaya,”
Akhirnya Rangga mau ikut orang tuanya ke Singapore. Tiap Rangga mengingat Kanaya, dia selalu mendengarkan musik yang mengalun merdu dari kotak musik Kanaya.
*ini hanyalah karangan fiksi semata, bila ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian harap maklum, hehe,*
Twitter update
Followers
Labels
- ♥ my story ♥ (19)
- about Indonesia (1)
- CERBUNG (2)
- koleksi cerpen (2)
- let's study (2)
- lirik lagu (8)
- news (2)
- other (4)
- Pendidikan (1)
- PHOTOS (5)
- poem (6)
- Tips (6)
About Me
26 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar